Di balik frekuensi
Di balik frekuensi.
Screening film yang gue hadiri di perpusat lt.6 ini membuka mata gue akan media yang ada di Indonesia yang jelas banget bakal jadi dunia yang paling akrab sama gue nantinya. Film 2,5jam yang disutradari mbak Ucu ini sukses membuat gue dengan manisnya duduk dan terus memperhatikan semua detail yang ada di film itu.
Frekuensi yang ada di Indonesia adalah milik publik yang simplenya dipinjamkan ke pemilik modal yang bisa membuat stasiuntv. Ini kan barang pinjaman yah, sudah seharusnya lah si peminjam ini menjaga baik-baik dan tetap menghromati si pemiliknya. Maksud gue, ya si pemilik stasiun tv yang minjem frekuensi public ini harusnya bikin acara yang memang dibutuhin sama public dong secara yang punya frekuensi public bukan mereka. Peminjam macam apa yang seenak jidatnya make barang pinjamnnya sesuka hati? Nah! Difilm ini diperlihatkan betapa seenak jidatnya si peminjam ini memakai barang yang dimiliki publik!
Luviana, mbak jurnalis yang diceritakan dalam film dokumeter ini adalah seseorang yang hebat banget menurut gue. Dia mengerahkan seluruh tenanga, jiwa dan raganya demi memperjuangkan apa yang memang harus diperjuangkan. Si pemiliki modal yang seenak jidatnya “jualan” di Tvnya seakan membatasi para pekerja media untuk tetap jujur memberikan apa yang public harus tau bukan ngeliatin muka orang yang gue lirik aja udah enek liatnya di spanduk-spanduk warna kuning atau bulet2 biru itu. Ya sebut aja deh ARB sama SP. Tau kan sapa?
Di film ini juga diliatin betapa dua stasiun Tv yang dimiliki dua orang yang gue sebutin tadi keliatan kaya anak SMA lagi ngeributin pacarnya gtu. Saling sindir lah, nyinyir menyinyir yang membuat gue pengen punya dua pesawat tv dirumah yang satu gue setel TvOne yang satu lagi MetroTv (udah yang sebut aja deh, udah rahasia umum kayanya) biar makin berasa gtu gretgetnya mereka ributnya. Mhihihihihihii.
Atau cerita bapak yang jalan dari sidoarjo yang memperjuangkan lumpur itu? Gila! Gue baru tau di film documenter ini si bapak yang sangatlah hebat bersandiwara gue rasa dia layak dapet piala Oscar saat itu. Ya lu pada tau kan aksi dia jalan kaki dari sidoarjo ke Jakarta. Di sepanjang jalan dia bertereak-tereak minta keadilan, menyumpah nyerapahin ARB, dang a mau di wawancara sama pihak TvOne karena memberitakan bahwa si bapak ini bukan warga asli sidarjo yang terkesan mencari sensai aja. Oh man! Gue lihat jelas di film documenter ini si bapak itu marah banget sampe ngusir si wartawan itu. Tapi talkshow di stasiun tv yang diusir-usir itu dia minta maaf sama seluruh keluarga ARB, bilang dia menyesal ngelakuin aksi itu dan berterimakasih sama ARB. Gilak!
Itu cuman sebagia kecil, kalau lu liat dan perhatiin acara tv (semuanya deh) pasti lu bener-bener ngerasa adanya keberpihakan dan kepentingan pemilik modal yang di agung-agungkan!!!! Sedih man! Gue jadi bingung sekrang kalau mau nonton berita gue harus percaya yang mana? Haruskah gue sholat istikhara dulu? Karena mungkin Cuma Allah SWT yang bisa gue percaya sekarang. (tsaaaah..berlebihan)
Ini bakal jadi dunia gue nantinya gue kuliah penyiaran gue harus jadi orang media yang sadar betul kalau itu frekuensi punya publik dan gue harus melakukan kerjaan gue dengan sebaik-baiknya mengutamakan kepentingan publik (benerin kerah) atau bahkan gue punya stasiun tv sendirijadi ga perlu ikutin si pemilik modal yang picik picik itu hoho. Doakan sajalah yah J
Buku P3P dan SPS yang dikeluarkan oleh KPI sudah berada di tangan gue (dikasih Bang Ade, dosen Hukum dan Etika profesi) jadi mungkin buku itu bakal jadi pegangan gue supaya tidak melenceng dikemudian hari kalau gue benar-benar akhirnya kerja di media. mhihihihihi







